Tanpasikap kedewasaan, hubungan tidak akan bisa bertahan lama. Empat Tanda Ketidakdewasaan dalam Jalani Hubungan. Senin, 21 Maret 2016 - 16:39 WIB
JendelaJohari ini mencerminkan tingkat keterbukaan seseorang yang dibagi dalam empat kuadran, Kuadran-kuadran tersebut bisa dijelaskan sebagai berikut: Open. Menggambarkan keadaan atau hal yang diketahui diri sendiri dan orang lain. Hal-hal tersebut meliputi sifat-sifat, perasaan-perasaan, dan motivasi-motivasinya.
C Kedewasaan Penuh menurut Alkitab . D. Berbagai Ajaran Palsu. E. Iklan Sebagai Ajaran Palsu . F. Kekayaan dan Sukses dengan Jalan Pintas. G. Kedewasaan Penuh dalam Hubungan dengan Orang Lain. H. Rencana Hidup Saya . Bab III Menjadi Manusia yang Bertanggungjawab di Dalam Masyarakat. A. Pengantar. B. Arti Tanggung jawab. C. Tanggung jawab dan
G Kedewasaan Penuh dalam Hubungan dengan Orang Lain. Pada bait ketujuh puisi Kliping di atas, ia mengatakan demikian: Jika kau dapat berbicara kepada rakyat jelata dan mempertahankan kebajikanmu, Atau berjalan dengan raja-raja - tanpa kehilangan hubungan dengan rakyat biasa; Jika tiada musuh atau teman tercinta dapat melukaimu; Jika semua
Vay Tiá»n TráșŁ GĂłp Theo ThĂĄng Chá» Cáș§n Cmnd. Oleh Dr Hj Sri Minarti, dapat diartikan kematangan dalam berpikir, bersikap, bertindak dalam mengambil suatu keputusan dengan seseorang dapat dipengaruhi oleh usia, pendidikan dan pengalaman seseorang secara biologis dapat terlihat bahwa orang tersebut telah memiliki keturunan atau ditandai adanya rasa ketertarikan pada lawan seseorang secara psikologis tampak dari kematangan sikap dalam menghadapi dan menyelesaikan suatu permasalahan. Tidak tergesa gesa emosional, memperhatikan kemanfaatan pada banyak orang, tidak hanya berorientasi pada diri secara sosial seseorang terlihat dalam sikap pada mahluk lain, mampu menerima perbedaan dengan lapang dada, mengerti, memahami dan bisa memaafkan suatu secara paedagogis pendidikan tampak pada perilaku pembelajar, berusaha memperbaiki diri dan menebarkan secara spiritual seseorang terlihat dalam usaha selalu melakukan pendekatan pada Sang Maha Pencipta, untuk menumbuhkan suatu kesadaran diri bahwa ada alam lain setelah dunia ini, segala aktivitas yang dilakukan sebagai bentuk ibadah kepada-Nya dan akan dipertanggung jawabkanAlangkah bijaknya kita bila di bulan Ramadan sebagai ajang meningkatkan kedewasaan dan introspeksi diri, sudah dewasakah kita?, sehingga pada akhirnya menjadi manusia dewasa sehat cerdas biologis, psikologis spiritual, sosiologis dan profesi kita. Ya Allah, ampunilah kekhilafan kami, aamiin
50 Kelas X SMASMK tertentu, tas tertentu yang bermerek, dll. Atau ada pula iklan yang mengatakan bahwa laki-laki akan menjadi perkasa apabila ia mengisap rokok tertentu, dan perempuan akan menjadi anggun bila ia melakukan hal yang sama. Sudah tentu, pendapat seperti itu tidak benar, karena rokok sesungguhnya berisi berbagai zat beracun yang sangat berbahaya dan bisa menyebabkan penyakit kanker yang membawa kepada kematian. Ajaran sesat lainnya adalah hedonisme, ajaran yang menganjurkan agar kita menikmati segala kenikmatan jasmani, i sik, dll. Misalnya, menikmati makanan dan minuman yang serba mahal, berpesiar ke luar negeri, berbelanja pakaian atau tas yang bermerek terkenal, berfoya-foya, dll. Orang-orang yang termakan dengan pikatan seperti ini seringkali kemudian disadarkan bahwa kemampuan keuangan mereka ternyata tidak memadai. Akibatnya, banyak orang yang kemudian terjerumus ke dalam praktik korupsi. Itulah yang terjadi di Indonesia sejak beberapa tahun belakangan ini. Pelajaran ini dimaksudkan untuk mengarahkan nilai-nilai yang dipegang oleh para peserta didik, agar mereka tidak begitu saja terpengaruh oleh materialisme, hedonisme, dan pemuasan kebutuhan i sik yang sesaat saja. Para peserta didik â dan kita semua â perlu belajar bagaimana hidup dengan apa yang ada pada kita, tanpa harus berutang kepada orang lain, atau bahkan mendorong orangtua supaya korupsi. D. Kedewasaan Penuh Lewat bahan pelajaran ini peserta didik diajak untuk belajar mengarahkan hidup mereka kepada suatu kedewasaan yang penuh, yaitu kedewasaan yang tidak berpusat pada diri sendiri, melainkan pada hidup yang berorientasi kepada orang lain. Inilah yang disebut sebagai altruisme, yaitu hidup yang tidak berpusat pada diri sendiri, melainkan pada keinginan untuk mengutamakan kepentingan dan kesejahteraan orang lain. Tuhan Yesus memperlihatkan hal ini lewat kematian-Nya pada kayu salib, seperti yang digambarkan oleh Rasul Paulus dalam Filipi 25-11, 5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat Diunduh dari http 51 Buku Guru Pendidikan Agama Kristen dan Budi Pekerti sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 11 dan segala lidah mengaku âYesus Kristus adalah Tuhan,â bagi kemuliaan Allah, Bapa E. Penjelasan Alkitab Efesus 411-15 Surat Efesus 414-15 yang mengingatkan kita bahwa orang yang dewasa tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengaruh atau ajaran yang palsu, seperti yang saat ini semakin banyak bertebaran di mana-mana. Dalam SabdaWeb, dijelaskan bahwa Surat Efesus ini kemungkinan ditulis sekitar tahun 62 M. Ini adalah salah satu puncak dalam penyataan alkitabiah dan menduduki tempat yang unik di antara surat-surat Paulus. Surat ini memberikan kesan akan luapan penyataan yang melimpah sebagai hasil dari kehidupan doa pribadi Paulus. Paulus menulis surat ini ketika dipenjara karena Kristus Ef 31; Ef 41; Ef 620, kemungkinan besar di Roma. Ada banyak persamaan di antara surat ini dengan surat Kolose. Mungkin Surat Efesus ditulis tidak lama sesudah surat Kolose. Beberapa teolog, seperti Frank Charles Thompson, setuju bahwa tema utama Surat Efesus adalah tanggapan kepada sejumlah orang Yahudi yang baru menjadi Kristen, yang seringkali memisahkan diri mereka dari saudara-saudara mereka yang berasal dari latar belakang non-Yahudi. Karena itulah tampaknya Paulus merindukan pertumbuhan jemaatnya di dalam iman, kasih, hikmat, seperti tersirat dalam Ef 115-17. Ia sungguh-sungguh menginginkan agar hidup mereka layak di hadapan Tuhan Yesus Kristus mis. Ef 41-3; Ef 51-2. Dua tema berikut ini tampak menonjol dalam Surat Efesus 1. Bersama menghidupkan kita bersama-sama Ef 25, membangkitkan kita, memberikan tempat bersama-sama 26, turut bersama-sama dibangunkan 222. 2. Satu, menunjukkan kesatuan satu manusia baru Ef. 215, satu tubuh 216; 44, satu Roh 218; 44, satu pengharapan 44, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua. 45â6 Seperti yang telah dijelaskan di atas, pentingnya kesatuan jemaat itu mendapatkan tekanan yang sangat kuat. Itu hanya bisa terjadi apabila setiap Diunduh dari http 52 Kelas X SMASMK orang bisa berpegang teguh pada keyakinan yang telah mereka pelajari dan peroleh. Surat Efesus 414-15 mengingatkan bahwa orang yang dewasa tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai pengaruh atau ajaran yang palsu, seperti yang saat ini semakin banyak bertebaran di mana-mana. Kolose 17-12 Penjelasan singkat mengenai Surat Kolose sudah diberikan dalam penjelasan Surat Efesus. Penjelasan itu dirasakan sudah cukup memadai, karena tampaknya memang kedua surat ini ditulis dalam waktu yang hampir bersamaan dan diedarkan juga sebagai Surat-surat Am, sehingga tidak tertuju kepada penerima tertentu. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa Surat Efesus dan Kolose memang ditujukan kepada semua jemaat Kristen yang ada di daerah Mediterania pada waktu itu. Surat Kolose 17-12 ini berisi doa-doa Paulus untuk jemaat di Kolose. Paulus berharap agar jemaat itu menerima hikmat dan pengertian yang benar, dan dengan demikian hidup mereka akan layak di hadapan Tuhan. Dengan hikmat itu, mereka akan menghasikan buah yang baik dalam pekerjaan dan âbertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allahâ Kol. 110. Kelanjutan doa ini berisi permohonan supaya jemaat di Kolose juga diberikan kekuatan untuk menanggung berbagai persoalan hidup =penderitaan?. Dengan demikian, maka mereka memang akan dianggap layak untuk âmendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terangâ 112. Kembali di sini kita melihat bagaimana orang Kristen diharapkan bertumbuh hingga mencapai kedewasaan bukan hanya secara jasmani tetapi juga secara rohani. Dengan demikian maka diharapkan peserta didik juga mempunyai kerindungan untuk bertumbuh secara rohani. Pertumbuhan itu dapat terjadi apabila peserta didik rajin membaca Alkitab, berdoa, menjalin hubungan yang akrab dengan Allah Bapa dan dengan saudara-saudara seiman, sehingga mereka bisa saling menguatkan iman mereka. F. Kegiatan Pembelajaran
Menjalani hubungan percintaan yang dewasa, tentunya sangat menyenangkan. Kamu gak akan merasa tertekan dan bisa mendapatkan kenyamanan dari hubungan yang sedang berjalan. Bagi kamu yang sedang menjalani proses pendekatan maupun yang sudah memiliki hubungan asmara dengan seseorang, penting untukmu melihat sisi dewasa dari gebetan maupun yang dewasa dapat membentuk kepribadianmu menjadi lebih bijaksana. Gak hanya dalam hubungan asmara, melainkan dalam berbagai aspek kehidupan juga akan menjadi lebih dewasa dan bijak. Apakah kamu ingin tahu bagaimana cara menakar tingkat kedewasaan seseorang dalam percintaan? Yuk, ikuti lima cara berikut Pandai mengerti dan memahami orang lain ilustrasi saling memahami HolmesApakah gebetan atau pasanganmu pandai mengerti dan memahamimu? Dalam arti, dia gak berpikir dan bersikap secara egois setiap saat. Keegoisan bisa menjadi sarana untukmu menakar tingkat kedewasaan seseorang. Maka, perhatikanlah cara berpikir dan bersikap dari orang yang sedang dekat, maupun yang sudah menjalin hubungan asmara kecil sisi egoisnya, itu menunjukkan bahwa dia memiliki tingkatan kedewasaan dan kebijaksanaan yang tinggi. Menjalin asmara dengan orang yang dewasa gak hanya dari usianya saja, itu akan membuat hubungan mampu bertahan lama dan memberikanmu kebahagiaan saat menjalin asmara Dia gak selalu menaruh rasa curiga yang berlebihan ilustrasi merasa curiga SubiyantoCara berikutnya untuk menakar kedewasaan seseorang dalam hal percintaan yaitu, dia gak menaruh rasa curiga yang berlebihan padamu. Orang yang dewasa dalam menjalani hubungan asmara, seharusnya mampu saling percaya dan menghargai pasangannya. Jika dia seperti itu, maka dia sudah cukup matang dan dewasa dalam urusan adalah salah satu faktor yang menunjukkan sisi dewasa dari pasangan yang sedang menjalani hubungan. Dengan saling percaya dan menghargai, maka hubungan yang dijalin akan semakin membawa kalian ke jenjang yang lebih serius lagi. Berhubungan asmara pastinya akan selalu saja ada halangannya, dengan memiliki kedewasaan seperti gak selalu curiga, maka jalinan asmara akan semakin erat dan Memiliki kesabaran yang tinggi ilustrasi laki-laki penyabar KattKesabaran gak hanya harus ada dalam kehidupan pribadi saja, melainkan dalam hubungan percintaan, sabar juga dibutuhkan. Maka, jika kamu ingin melihat seberapa dewasanya pasangan dalam menjalani hubungan, perhatikanlah sisi sabar dari pasanganmu. Apakah selama ini dia bersabar ketika menghadapi ujian dalam hubungan, atau malah sebaliknya? Dalam hubungan percintaan, jika kesabaran gak kalian miliki, maka hubungan akan rentan mengalami hambatan yang bisa mengakibatkan putus di tengah jalan. Kesabaran hanya bisa dimiliki oleh seseorang yang dewasa secara emosional dan tindakan, maka untuk menakar tingkatan kedewasaan pasangan, perhatikanlah sisi kesabarannya. Baca Juga 6 Cara Menghormati Pasangan agar Tercipta Hubungan Asmara yang Sehat 4. Memiliki kemampuan mempertimbangkan berbagai hal dalam hubungan ilustrasi pasangan sedang berdiskusi KattMenakar kedewasaan pasangan, bisa kamu lihat dari kemampuannya dalam mempertimbangkan berbagai hal terkait hubungan yang sedang kalian jalani. Tentu saja, pertimbangan yang gak hanya mengutamakan kepentingan pribadinya saja, melainkan pertimbangan yang memiliki dampak positif terhadap hubungan dan masa depan jika terjadi masalah, pasanganmu hanya mempertimbangkan sesuatu berdasarkan kepentingannya saja? Apakah dia kerap mengabaikan kepentinganmu? Jika dia selalu memikirkan dan mempertimbangkan berbagai hal untuk kebaikan bersama, itu tandanya tingkat kedewasaan yang dimilikinya tergolong Berani mengakui kesalahannya dan mampu bertanggung jawab ilustrasi berani mengakui kesalahan ProductionsCara menakar kedewasaan seseorang dalam hubungan asmara berikutnya yaitu, perhatikan apakah saat dia melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya dan mampu bertanggung jawab menyelesaikannya, atau sebaliknya? Apabila dia berani mengakui perbuatannya yang salah, serta bersedia dan mampu memperbaiki, itu menunjukkan tingkatan kedewasaannya sudah semua orang bisa melakukannya, bagi dia yang mampu, itu mencerminkan sisi dewasa ada dalam dirinya. Berhubungan asmara dengannya, pasti akan terasa membahagiakan dan gak penuh tekanan. Terlepas dari besar kecilnya kesalahan yang dilakukan, jika itu tanpa sengaja dan dia pun mengakui, serta bertanggung jawab, jangan lepaskan karakter seseorang yang sepertinya, karena gak mudah mendapatkan pasangan yang mampu bertindak kedewasaan seseorang dalam hubungan percintaan, perlu kamu lakukan. Keharmonisan hubungan asmara, bisa kalian dapatkan, jika masing-masing memiliki kedewasaan. Ingin merajut kisah asmara yang penuh dengan rasa bahagia? Kenali pasanganmu lebih dalam terkait kedewasaan dalam cara di atas bisa kamu coba dari sejak dia masih menjadi gebetan hingga masuk ke tahap berstatus sebagai pasangan. Kedewasaan pola pikir dan cara bersikap menjadi suatu hal yang sangat dibutuhkan dalam membangun hubungan percintaan. Teruslah belajar menjadi dewasa bersama pasangan, agar jalinan asmara mampu tetap bertahan di tengah banyaknya tantangan yang memicu kandasnya hubungan. Baca Juga 5 Hal Toksik yang Kerap Diwajarkan dalam Hubungan, Jangan Dilanjutkan! IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.
Dok. Thinkstock Jakarta - Kedewasaan memang menjadi suatu konteks yang sulit diukur ataupun dipahami. Tak jarang pula hal ini menjadi alasan sebuah hubungan asmara kandas di tengah kedewasaan seseorang tidak dapat serta merta dilihat dari tua atau mudanya usia. Orang yang berusia lebih tua belum tentu lebih dewasa dibandingkan mereka yang usianya lebih muda dan sebaliknya. Seperti kata pepatah, "Menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa adalah sebuah pilihan."Begitupun yang diungkap oleh psikolog dan juga konsultan cinta Wolipop, Ratih Ibrahim. "Kedewasaan seseorang dapat terlihat dari kematangan dan kemandiriannya dalam berpikir, merasa dan bertingkah laku," tutur kualitas hubungan yang lebih baik, kedewasaan memang diperlukan. Namun bukannya harus memaksa atau berpura-pura, melainkan dibuktikan dengan Juga 50 Inspirasi Gaun Pengantin 2015 Perilaku yang dimaksud tercermin dari bagaimana seseorang dapat menarik pelajaran dari setiap pengalaman hidupnya. Seperti yang diungkap Ratih, proses ini akan berkembang dan mengubah kepribadian seseorang jika yang bersangkutan mau belajar dari bagaimana cara menunjukkan kedewasaan? Yang pertama, Anda dapat menggunakan pengalaman di hubungan terdahulu sebagai pembelajaran untuk instropeksi diri. Belajar dari pengalaman akan membentuk Anda menjadi pribadi yang lebih matang dari cara berpikir. Dengan begitu Anda akan mampu berpikir mandiri dalam membuat pilihan hidup dengan segala pertimbangan dan hanya itu, pribadi yang lebih matang juga membuat perasaan lebih stabil sehingga bisa lebih tenang dalam menghadapi segala persoalan. "Seseorang yang matang akan mampu tidak bergantung pada penilaian orang lain akan dirinya melainkan dapat menghargai diri sendiri dengan lebih baik dari waktu ke waktu," tambah Ratih lagi. Alissa Safiera/Hestianingsih
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Menyambung tulisan sebelumnya, Kedewasaan Emosional dan Kedewasaan Sosial, saya menyempitkan kedewasaan pada kedewasaan sosial. Sekali lagi, saya sekadar menanggapi tulisan Eddy Sutanto yang berjudul âMenuju Kedewasaan Intelektual dan Kedewasaan Spiritualâ.Kedewasaan berkaitan dengan diri sendiri. Sosial berkaitan dengan orang lain. Ketika menjadi âkedewasaan sosialâ, tentu saja diri sendiri berkaitan dengan ruang lingkup sekitar. Ruang lingkup sekitar dimulai dari lingkup kecil, yaitu rumah tangga atau keluarga terdekat. Lebih luas lagi adalah rumah tetangga RT, saudara-saudara, dan pergaulan terdekat. Semakin luas pada satu wilayah daerah lokal-regional. Meningkat lagi ke ranah nasional dan tulisan Eddy terdapat dua kedewasaan yang diunggulkan dalam ranah negara dan berkaitan dengan situasi Pemilihan Presiden Pilpres 2014, yaitu kedewasaan intelektual dan kedewasaan spiritual. Sementara kedewasaan emosional sempat diabaikannya seperti yang tertulis, âKedewasaan intelektual, tentunya berkaitan erat sekali dengan logika berpikir, bukan dipengaruhi oleh emosional/ keinginan yang berlebihan, tapi cara berpikir haruslah didasari logika, dan tidak akan mempengaruhi emosi kita.âMengenai kedewasaan spiritual, Eddy sempat menyinggung suatu sosokâ dan sosok lainnyaâ, yaitu âsesama manusiaâ. Saya persempit menjadi âmanusiaâ. Kalau âmanusiaâ hanya bersubstansi secara âintelektualâ dan âspiritualâ, adakah? Barangkali dalam diri Eddy hanya bersubstansi âintelektual-spiritualâ tanpa âemosionalâ. Barangkali tidak saya abaikan adalah proses menuju kedewasaan intelektual dan spiritual. Mungkin kedewasaan spiritual dapat terjadi melalui proses pribadi individual, yaitu proses suatu pribadi memahami Penciptanya. Apakah proses tersebut kemudian tidak berhubungan dengan orang lain sebagai ejawantah manusia sebagai makhluk sosial? Tentu saja berhubungan, bukan?Lalu, ketika terjadi hubungan dengan orang lain, semisal tetangga, apakah kedewasaan spiritual itu cukup? Kalau orang lain itu tidak memiliki kedewasaan spiritual yang sama, lebih-lebih berbeda aliran spiritual, bisakah terjalin suatu hubungan yang selalu harmonis dan seterusnya apalagi menyangkut pergaulan dalam negara?Lalu, proses menuju kedewasaan intelektual. Apakah batasan atau ukuran âintelektualâ tersebut? Kalau hanya seorang diri, sejauh mana âmanusiaâ bisa meraih kedewasaan intelektual tanpa adanya orang lain? Belajar sendiri di rumah tanpa pernah bersekolah?Barangkali saja kedewasaan intelektual Eddy diperoleh sendiri di dalam kamarnya tanpa pernah bersekolah. Tapi, apakah itu mungkin? Saya yakin, kedewasaan intelektual Eddy juga diperoleh dari bangku sekolah pendidikan. Artinya, selama bersekolah, Eddy pasti mengalami pendewasaan emosional-sosial bersama teman-teman sekolah dan barangkali tidak juga. Eddy tidak pernah bersekolah dan tidak mengalami proses sosialisasi dengan lingkungannya. Oleh karenanya Eddy hanya memahami âkedewasaan intelektualâ dam âkedewasaan spiritualâ. Tidak peduli pada âkedewasaan emosionalâ dan âkedewasaan sosialâ.Hebatnya, dengan dua kedewasaan intelektual-spiritual tersebut, Eddy membahas persoalan yang begitu luas, yakni negara Indonesia. Saya tidak berani membayangkan jika kedewasaan spiritual-intelektual diunggulkan dalam suatu pergaulan antarmanusia tanpa mengindahkan emosional perasaan orang lain dan sosial lebih dari seorang lain. Istilah âtenggang rasaâ, âtepa seliraâ, âsolidaritasâ, âempatiâ dan sejenisnya, dari tulisan Eddy itu, seolah tidak diperlukan sebagai realitas âmanusiaâ dan ânegaraâ negara Indonesia.Menurut saya, pernyataan Eddy bahwa âMomen saat ini, adalah momen bersejarah bagi bangsa Indonesia, memilih Presiden dengan cara yang sangat demokratis, dimana tidak tercermin hal seperti di Indonesia di Negara-negara tetangga kitaâ sangat bertolak belakang kontradiktif dengan fokusnya pada âkedewasaan intelektualâ dan âkedewasaan spiritualâ. Mengapa? Jelas, kata âbangsaâ, âdemokratisâ, dan ânegara-negara-negara tetanggaâ itu sudah terlepas dari diri sendiri individual dan merupakan suatu lingkup sosial pergaulan antarmanusia.Suatu realita di Indonesia, terdapat beberapa orang yang sudah dewasa secara spiritual-intelektual tetapi dengan lantang mengobarkan âperang Badarâ, atau âmemfitnahâ melalui media massa hingga âtindakan anarkis-berdarahâ terhadap âmanusiaâ lainnya semacam âYogyakarta Berdarahâ, atau minimal kasus âmelempar handphoneâ. Mengapa hal itu terjadi? Bukan mustahil akibat tidak mengalami kedewasaan emosional dan sosial. Tidak ada empati, belas kasihan, tenggang rasa, dan rasa berkaitan dengan Pilpres 2014 ini, hubungan âmanusiaâ Indonesia tidaklah cukup berhenti pada âkedewasaan intelektual-spiritualâ. Pemahaman kedewasaan intelektual mengenai ke-Tuhan-an kedewasaan spiritual tidaklah cukup hanya sebatas âsesama agamaâ atau âsesama pendukung capresâ, bukan?Dan, menyinggung kata âIndonesiaâ, sangat jelas berkaitan dengan âsesama bangsa-warga negaraâ yang ber-bhinneka tunggal ika. Artinya, untuk kepentingan berbangsa-bernegara apalagi dalam suasana Pilpres sekarang ini, sangatlah diperlukan kedewasaan emosional dan kedewasaan sosial, selain kedewasaan dengan kedewasaan yang lengkap kedewasaan intelektual-spiritual-emosional-sosial, persoalan kebangsaan dan nasional, tentu saja, akan lebih mudah disolusikan. Bersama sebagai sesama bangsa Indonesia ini jelas merupakan kedewasaan sosial, niscaya kebaikan dan kemajuan Indonesia bisa benar-benar diperjuangkan dan diwujudkan, meski tidaklah bisa langsung sempurna dalam waktu satu-dua minggu sejak seseorang terpilih menjadi presiden Republik Indonesia.*******Sabana Karang, 2014 Lihat Catatan Selengkapnya
kedewasaan penuh dalam hubungan dengan orang lain