Berkahilmu itu bukan hanya didapat dari menghormati dan mengagungkan guru tapi keberkahan bisa di dapat dari bagaimana cara kita mengagungkan kitab dan pengarang kitap yang dipelajari. Adapun tatacara menghormati guru atau kiai menurut Syaikh Burhanuddin dalam kitab Ta'lim Muta'allim menjelaskan : Denganhormat dan taat pada guru, murid akan menempuh jalan keberkahan ilmu, sehingga memperoleh ilmu yang melimpah. Banyak contoh kisah teladan yang dapat diambil pelajarannya tentang seorang murid yang hormat kepada gurunya, seperti kisah Imam Syafi'i yang sangat hormat pada gurunya meskipun kondisi fisik gurunya itu lusuh, kumal, dan kotor. Cobalihat katalog buku panduan guru ppkn harganya mulai Rp 26.900 tersebar di berbagai toko online, bandingkan jual Buku Panduan Guru Ppkn ori dan Buku Panduan Guru Ppkn kw dengan harga murah Selamat Datang di Semoga Rezekinya semakin banyak & berkah 10000x lipat Merekatidak memahami sesungguhnya keberkahan ada dari usaha menuntut ilmu, bagaimana mereka berkhidmat, dan berapa banyak yang mereka korbankan baik fisik, mental serta tak jarang berkorban uang untuk mengambil sanad sebagai ungkapan rasa syukur serta ucapan terima kasih atas ilmu yang didapatkan. Guru-guru kita belajar dari kyai ke kyai Keberkahanilmu harus dimulai dengan niat yang lurus dan benar para penuntut ilmu dalam kitabnya, Hilyah Th ā lib al-'Ilmi, pada dasarnya mengambil ilmu pertama kali bukanlah dari buku, tetapi harus dari guru yang engkau percayai memiliki kunci-kunci pembuka ilmu, agar engkau terbebas dari bahaya dan ketergelinciran. Oleh karena itu Vay Nhanh Fast Money. Tidak ada seorang pun dalam kehidupan kita selain kedua orang tua yang paling berjasa dan paling layak dihormati melebihi daripada guru. Guru merupakan pewaris ilmu, dan setiap pewaris ilmu adalah ulama, sedangkan ulama adalah pewaris para nabi. Kedudukan antara ilmu, guru dan ulama tidak bisa dipisahkan. Guru memiliki derajat dan martabat yang tinggi, sebagai murid kita harus senantiasa menghormati guru kita sendiri. Tidaklah heran kalau kita melihat para ulama sangat menghormati guru-guru mereka. Tanpa seorang guru, kita tidak mungkin bisa mengenal agama islam ini dengan baik. Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi pernah berkata, “Kalau bukan karena guruku, aku tidak akan mengenal siapa Tuhanku.” Supaya ilmu yang kita dapatkan dari para guru kita bisa bermanfaat dan barokah, ada beberapa tata krama yang harus diperhatikan, Datang Kepada Guru Dengan Tujuan yang Baik Seorang murid harus datang kepada gurunya dengan tujuan yang baik, yaitu untuk mendapatkan bimbingan dari sang guru supaya bisa lebih dekat kepada Allah Swt. Seorang murid yang hanya mencari keuntungan dunia atau mencari-cari kesalahan gurunya akan dijauhkan dari ilmu yang manfaat dan barokah. Melihat Guru Sebagai Pembimbing Menuju Keselamatan di Akhirat Hal inilah yang akan membuat seorang murid bersungguh-sungguh dalam belajar dan senantiasa memuliakan gurunya. Patuh Kepada Nasehat Guru Keberkahan ilmu tidak akan didapat jika murid tersebut tidak patuh terhadap perintah gurunya. Patuh di sini bukan hanya pada urusan ilmu saja, tapi segala isyarat dan anjuran yang disampaikan oleh guru. Setiap murid sebisa mungkin harus mematuhi perintah gurunya asalkan bukan dalam hal kemaksiatan. Mengabdi Kepada Guru Pengabdian di sini maknanya adalah kesiapan hati seorang murid untuk mengutamakan sang guru dari kepentingan dirinya sendiri. Selalu memperhatikan kebutuhan guru dan berusaha mendapatkan kerelaan hati dari sang guru. Semoga kita semua tergolong orang yang selalu memuliakan majelis ilmu dan ahli ilmu, aamiin. Keberkahan Ilmu Hanya Bisa Didapat Dari Seorang Guru Informasi Pendidikan - Keberkahan sebuah ilmu bisa berkurang bahkan hilang bila si pemberi ilmu merasa tersinggung dengan perilaku penyebar broadcast tersebut. Kebekahan bisa tersumbat. Keberkahan ilmu pun bisa berkurang bila si penerima ilmu berlaku tak santun dan tak hormat kepada si pemberi ilmu..keberkahan ilmu hanya bisa didapat dari seorang guru informasi pendidikan, riset, keberkahan, ilmu, hanya, bisa, didapat, dari, seorang, guru, informasi, pendidikan LIST OF CONTENT Opening Something Relevant Conclusion Keberkahan ilmu yang diperoleh diketahui dari peningkatan amal shaleh pada diri seorang muslim. Jika sudah dapat ilmu tapi tidak berbekas pada diri kita, bisa jadi, itu adalah tanda kita tidak mendapat keberkahan ilmu. Begitulah cara orang-orang terdahulu mendapatkan keberkahan ilmu dari memuliakan gurunya. Mencintai ilmu berarti mencintai orang yang menjadi sumber ilmu. Menghormati ilmu berarti harus menghormati pula orang yang memberi ilmu. Itulah guru. Tanpa pengajaran guru, ilmu tak akan pernah bisa didapatkan oleh si murid. Keberkahan ilmu yang dimiliki seseorang akan terlihat dari akhlak dan perilaku orang berilmu tersebut, bahkan menjadikannya sebagai hamba yang semakin taat. Foto ilustrasi/ist. A A A. Memperoleh ilmu tidak serta merta membuat seseorang hanya pandai saja, tetapi bila ilmu itu juga memberi keberkahan pada dirinya. Keberkahan ilmu yang diperoleh akan diketahui dari peningkatan amal shaleh pada diri seorang muslim. Jika sudah dapat ilmu tapi tidak berbekas pada diri kita, bisa jadi, itu adalah tanda kita tidak mendapat keberkahan keberkahan ilmu, seseorang dapat memperoleh pengetahuan dan wawasan yang luas, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mendapatkan keberkahan ilmu, di antaranya 1. Niat Hanya untuk Niat dalam menuntut hanya untuk Lillahi ta'ala. Itu karena keberkahan ilmu. Recommended Posts of Keberkahan Ilmu Hanya Bisa Didapat Dari Seorang Guru Informasi Pendidikan cara mendapatkan keberkahan ilmu, ilmu yang berkah, pengertian ilmu yang berkah, apa itu ilmu yang berkah, ilmu yang berkah adalah, keberkahan ilmu harus didapatkan pengertian berkah cara mendapatkan keberkahan ilmu untuk pencari ilmu, santri harus mencari keberkahan ilmuKarena salah satu resep mencari keberkahan dalam ilmu ialah "Amanah Ilmiah" itu sendiri. Tidak asal ngaku, merasa gengsi kalau harsu jiplak. Padahal memang seperti itulah ilmu, terlebih dalam syariah. Karena semua ilmu dalam syariah ini diperoleh dengan jalan "RIWAYAT".Jika ilmu yang kita punya belum bisa memberikan manfaat untuk orang lain, maka kita perlu introspeksi lagi. Karena keberkahan ilmu akan didapat ketika orang lain bisa mengambil manfaat dari kita. Pemahaman dan ilmu Pengetahuan seseorang tidak hanya diukur dari tingkat IQ-nya kecerdasan ini biasanya kita dapat peroleh dengan cara menulis, mencatat, merangkum, dari ilmu yang didapat. 2. Hirsun Sungguh-Sungguh Dalam menuntut ilmu jika kita tidak dibarengi dengan niat yang sungguh-sungguh didalam diri kita, maka sangat sulit untuk bisa memperoleh ilmu ilmu yang diperoleh diketahui dari peningkatan amal shaleh pada diri seorang muslim. Jika sudah dapat ilmu tapi tidak berbekas pada diri kita, bisa jadi, itu adalah tanda kita tidak mendapat keberkahan sebuah ilmu bisa berkurang bahkan hilang bila si pemberi ilmu merasa tersinggung dengan perilaku penyebar broadcast tersebut. Kebekahan bisa tersumbat. Keberkahan ilmu pun bisa berkurang bila si penerima ilmu berlaku tak santun dan tak hormat kepada si pemberi mengamalkan ilmu merupakan salah satu perkara yang menyebabkan hilangnya keberkahan dari ilmu. Sebagaimana sebutkan dalam surat Ash Shaff ayat 2-3, "Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu selalu memberikan kita ilmu yang bermanfaat, dan menjauhkan kita dari ilmu yang tidak bermanfaat. Bagaimana agar kita mendapatkan keberkahan dalam ilmu-ilmu kita? Ada dua kunci utama agar kita bisa mendapatkan keberkahan ilmu Menata Hati. Subhanahu wa ta'ala berfirman,Dimana kecerdasan ini biasanya kita dapat peroleh dengan cara menulis, mencatat, merangkum, dari ilmu yang didapat. Perkara yang dibutuhkan para pencari ilmu Hirsun Sungguh-Sungguh Dalam menuntut ilmu jika kita tidak dibarengi dengan niat yang sungguh-sungguh didalam diri kita, maka sangat sulit untuk bisa memperoleh ilmu dua hal inilah keberkahan didapatkan. Beriman kepada artinya seorang hamba meyakini segala pokok keimanan. Sebagaimana yang kita kenal dalam rukun iman. Iman kepada , malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat, takdir yang baik dan yang buruk. Apabila hati telah dipenuhi dengan keimanan ini cara orang-orang terdahulu mendapatkan keberkahan ilmu dari memuliakan gurunya. Mencintai ilmu berarti mencintai orang yang menjadi sumber ilmu. Menghormati ilmu berarti harus menghormati pula orang yang memberi ilmu. Itulah guru. Tanpa pengajaran guru, ilmu tak akan pernah bisa didapatkan oleh si merupakan sesuatu yang harus kita cari kemana pun dan di mana pun. Ilmu itu harus dijunjung sampai akhir hayat hidup kita di dunia. Dengan ilmu kita dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Dengan ilmu kita tidak akan tersesat ke dalam jurang kehancuran. Namun, tahukah Anda bahwa ada ilmu yang membawa sengsara?Ilmu, Pelita Kemuliaan . Sesungguhnya kemuliaan bukan hanya milik orang yang bertahta atau berharta. Bukan pula milik para rupawan dan memiliki popularitas. Tetapi, kemuliaan bisa diraih oleh setiap hamba. Ia bisa diraih oleh orang bawahan, rakyat jelata, bahkan oleh budak sekalipun. Kisah di atas bukti nyata bahwa kemuliaan bisa diraih pun dengan ilmu. Jika ilmu diwadahi dengan hati yang kotor dan penuh dengan berbagai penyakit, maka keberkahan ilmu itu tidak akan dapat dipetik. Berkah ilmu hakikatnya adalah buah dari meresapnya ilmu pada hati yang bersih yang kemudian diamalkan dengan anggota keberkahan memiliki kata dasar "berkah", yang dalam bahasa Arab al-barakah. Secara ilmu bahasa, al-barakah, berarti berkembang, bertambah dan kebahagiaan. Imam An-Nawawi rahimahullah berkata "Asal makna keberkahan ialah kebaikan yang banyak dan abadi.". BACA JUGA Detik-detik Wafatnya Sultan Abdul Hamid II. Conclusion From Keberkahan Ilmu Hanya Bisa Didapat Dari Seorang Guru Informasi Pendidikan Keberkahan Ilmu Hanya Bisa Didapat Dari Seorang Guru Informasi Pendidikan - A collection of text Keberkahan Ilmu Hanya Bisa Didapat Dari Seorang Guru Informasi Pendidikan from the internet giant network on planet earth, can be seen here. We hope you find what you are looking for. Hopefully can help. Thanks. See the Next Post - Seorang santri sangat penting memperhatikan adab terhadap guru sebelum menuntut ilmu. Itu agar ilmu yang didapat mendapatkan keberkahan dari Allah Ta’ala. Guru merupakan aspek besar dalam penyebaran ilmu, apalagi jika yang disebarkan adalah ilmu agama. Ahli waris nabi, begitu julukan mereka para pemegang kemuliaan ilmu agama. Kedudukan mereka sangat tinggi di hadapan Allah Sang Zarnuji dalam kita Ta’lim Al-Muta’alim menulis bab Mengagungkan Ilmu dan Ahli Ilmu’ sebagai bentuk penekanan pentingnya adab dalam menuntut ilmu. Adab merupakan kunci keberkahan. Seseorang tidak bisa mendapatkan keberkahan ilmu jika tidak beradab kepada Yahya mengatakan, seorang santri tidak akan mendapatkan dan tidak bisa memanfaatkan ilmu kecuali mengagungkan ilmu itu sendiri, ahli ilmu ulama yang mengajarkan ilmu itu, dan mengagungkan ustadz serta memuliakan mereka.“Tidak akan sampai kepada ilmu atau seorang alim tidak akan menjadi alim, kecuali dengan pengagungan, pemuliaan kepada guru. Tidak akan jatuh orang yang telah jatuh dalam kehinaan, kecuali sebabnya karena meninggalkan pemuliaan, pengagungan kepada gurunya,” tutur Buya Yahya melalui Al-Bahjah TV, dikutip Jumat 24/9/2021.Guru tidak pernah mencari penghormatan, karena yang mereka cari adalah kemuliaan dari Allah Ta’ala, bukan dimuliakan oleh santri. Seorang guru tidak mengharapkan penghormatan dari santri, namun menghormati guru merupakan kepentingan santri agar ilmu mengucur dan mendapat keberkahan dalam Buya Yahya, seorang santri yang tidak menghormati guru, maka tidak akan mengucur ilmu yang dimiliki oleh guru. Sehingga dengan penghormatan inilah seorang murid akan melampaui gurunya. Ada beberapa cara menghormati guru, di antaranya sebagai berikutPertama, jangan berjalan di depannya jangan membelakangi guru, kecuali diminta oleh guru. Kedua, jangan duduk di tempat yang biasa diduduki oleh guru. Ketiga, jangan memulai berbicara/pembicaraan di hadapan guru, kecuali mendapat izin terlebih dahulu dari itu, santri juga tidak boleh bertanya kepada guru tentang sesuatu saat guru tampak sedang capek. Capek bukan berarti guru bosan atau capek mengajarkan ilmu. Namun capek secara manusiawi yang membutuhkan istirahat. Misalnya, guru mengajar berjam-jam, namun santri malah bertanya pada saat guru istirahat.“Kalau menjadi guru, menjadi ulama, jangan penghormatan. Mencari ilmu jangan salah niat karena ada perasaan enak ketika menjadi ulama dihormati. Guru tidak minta penghormatan, mereka ingin dimuliakan oleh Allah, tetapi ini pendidikan bagi kita sebagai seorang murid. Maka, kita perlu menghormati, memuliakan guru kita demi mendapatkan ilmu dari Allah melalui guru kita,” Buya Yahya.jqf Keberkahan adalah sesuatu yang sulit diukur dengan parameter yang bersifat khissi konkret. Para ulama mendefinisikan البَرَكَةُ dengan النماء والزيادة bertambah dan berkembang. Al Asfahani mendefinisikan بَرَكَةٌ’, yaitu tsubut alal khoir al ilaahi fii syai’, yaitu menetapnya kebaikan dari Allah kepada sesuatu. Definisi lain berkah adalah al-khair al-katsir al-mutayazid al-mutadawim, yaitu kebaikan yang banyak terus menerus bertambah”. Beberapa faktor yang mempengaruhi keberkahan ilmu, yaitu adab orang tua kepada pendidik, adab dari sang anak dan adab seorang pendidik itu sendiri, apakah ia mendidik masih bertendensi pada keduniawian. Dari beberapa faktor tersebut, mengapa semua itu terkaitkan dengan adab? Jawabannya Adab atau akhlaqul karimah adalah perintah Allah Swt. dan Rasul-Nya secara syar’i, banyak sekali hadis ataupun riwayat yang menjelaskan tentang khusnul khuluq atau adab, bahkan sebagiannya Rasulullah Saw. kaitkan dengan tingkat keimanan seseorang dengan hari akhir. Sebagaimana hadis, مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ “Barang siapa yang beriman dengan hari akhir maka hendaklah memuliakan tetangganya, dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah memuliakan tamu.” Hr. Bukhari dan Muslim Pentingnya Khusnul Khuluq atau ta’addub kepada orang yang berilmu. Allah menegaskan dalam sebuah ayat, يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ “Allah Swt. mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat di atas yang lain”. Al Mujadilah 11 Ayat tersebut menjelaskan tentang kemuliaan orang berilmu, maka adalah sebuah pelanggaran kepada Allah Swt. apabila tidak memuliakan orang yang Allah angkat/muliakan derajatnya. Adapun pula pendidik adalah orang yang dikatakan Allah, خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ Yaitu orang terbaik dimana ia mengajarkan al Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain. Dari hadis itu Allah statuskan para pendidik sebagai khairunnas, sebaik-baik manusia. Baca juga Pendidikan yang Memanusiakan Pendidik juga adalah manusia yang disabdakan Rasulullah Saw. “Sesungguhnya Allah, para malaikat Nya, penduduk langit dan bumi sampai semut di sarangnya dan ikan di lautan turut mendoakan kebaikan untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia “ HR. At-Tirmidzi Bilamana orang tua tiada lagi ihtirom kepada mu’allim, bisa dikatakan bahwa ia melawan semesta, padahal semesta telah memuliakannya. Konsep yang diterapkan para mu’allim dalam pendidikan khususnya kuttab yaitu, “الأدب قبل العلم و الإيمان قبل القرآن” Adab sebelum ilmu, iman sebelum Qur’an Setiap orang tua menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang beradab, hal ini tidak akan tercapai bilamana tidak ada qudwah dari orang tua. Metode teladan yang baik’ adalah cara yang efektif untuk menumbuhkan adab anak. Salah satu qudwah shalihat yaitu menempatkan adab orang tua, ihtirom kepada mu’allim sang anak. Sebagaimana Ali bin abi Thalib pernah berkata, “Aku adalah hamba bagi orang-orang yang mengajarkan ilmu walaupun satu huruf”. Dari perkataan Ali Radhiyallahu anhu dapat disimpulkan, bahwa orang yang mengajarkan ilmu walaupun satu huruf, maka ialah tuannya, Sedangkan para pendidik mengajarkan tak hanya satu huruf. Baca juga Mengajar Era Lalu dimana letak keberkahan ilmu sang anak? Pertama, sebuah motivasi bagi para mu’allim, di antara yang menguatkan seorang pendidik adalah sikap wali santri yaitu ihtiram kepada mu’allim sang anak. Bilamana mereka menguatkan, mendukung penuh terhadap proses pendidikan sang anak, maka hal itu menjadi motivasi bagi mu’allim, sehingga hasil tarbiyah kepada anak didik pun akan semakin kuat. Kedua, syukur kepada Allah. من لا يشكر الناس لا يشكر الله’ Barangsiapa yang tidak berterimakasih kepada orang yang berjasa mendidik anak kita, dia belum berterimakasih kepada Allah Swt. Maka dari itu, penting sekali berterimakasih kepada siapapun yang berbuat baik dan Allah akan tambahkan nikmat-Nya kepadanya, لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu…” Apabila seseorang telah bersyukur, maka sempurnalah kesyukuran kita kepada orang-orang yang telah berbuat baik. Wallahu a’lam. Source Ceramah Dr. Hakimuddin Salim, Lc., disampaikan saat POMG Kuttab Ibnu Abbas Klaten, Jum’at 18 Desember 2021. Redaktur Luthfi Nur Azizah Oleh MUHAMMAD RAJABOLEH MUHAMMAD RAJAB Pembelajaran tahun ajaran baru telah resmi dimulai, walaupun sebagian besar masih dilakukan secara daring. Meski begitu tentu kita berharap tidak menghilangkan keberkahan ilmu yang diajarkannya. Kata berkah berasal dari bahasa Arab, barakah, yang maknanya menurut Imam al-Ghazali adalah ziyadah al-khair, yakni bertambahnya nilai kebaikan. Ilmu yang berkah memberikan nilai kemanfaatan dan kebaikan di dalamnya. Salah satu tandanya adalah ilmu tersebut diamalkan dan bermanfaat untuk dirinya dan orang lain serta mendatangkan kebaikan. Oleh karena pentingnya keberkahan ilmu tersebut, Imam al-Ghazali dalam kitab Ayyuha al- Walad memberi nasihat kepada para penuntut ilmu, “Meskipun engkau menuntut ilmu 100 tahun dan mengumpulkan menghafalkan kitab, engkau tidak akan bersiap sedia mendapatkan rahmat Allah kecuali dengan mengamalkannya. Sebagaimana firman Allah dalam Alquran.” QS al-Najm 39, al-Kahf 110, dan 107-108, al-Taubah 82, al-Furqan 70. Keberkahan ilmu harus dimulai dengan niat yang lurus dan benar. Demikian pesan Imam az-Zarnuji 1981 32 dalam kitab Ta’līm al-Mutallim Tharīq al-Ta’allum. Beliau mengatakan, selayaknya seorang penuntut ilmu meniatkannya untuk mencari keridhaan Allah SWT, mencari kehidupan akhirat, menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri dan orang-orang bodoh, menghidupkan agama dan melanggengkan Islam. Sebab, kelanggengan Islam itu harus dengan ilmu dan tidak sah kezuhudan dan ketakwaan yang didasari atas kebodohan. Selain niat, keberkahan ilmu ditentukan oleh sikap penuntut ilmu dan orang tuanya terhadap ilmu dan orang yang mengajarkan ilmu tersebut, yaitu guru. Az-Zarnuji mengatakan, “Ketahuilah, seorang murid tidak akan memperoleh ilmu dan tidak akan dapat ilmu yang bermanfaat, kecuali ia mau mengagungkan ilmu, ahli ilmu, dan menghormati keagungan guru.” Dalam tradisi keilmuan Islam, penghormatan ta’dzim terhadap ustaz/guru benar-benar telah dipraktikkan. Dan ini menjadi kunci kejayaan peradaban Islam. Hal ini bisa kita lihat dari contoh-contoh yang telah ditunjukkan oleh orang-orang mulia. Misalnya, sahabat Ali bin Abi Thalib yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai Bab al-Ilmi atau pintu ilmu. Beliau mengatakan, “Saya menjadi hamba sahaya orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya, saya mau dijual, dimerdekakan, ataupun tetap menjadi hambanya.” Demikian pula dengan orang tua yang seharusnya memberikan penghormatan tinggi kepada para guru anak-anaknya. Pada masa keemasan Islam, para orang tua sangat antusias menyekolahkan anak-anak mereka kepada para guru ulama. As-Shalabi 2006 117 menyebutkan dalam kitabnya, Fatih al-Qasthinthiniyah, al-Sulthan Muhammad al-Fatih, suatu ketika, guru Sang Sultan yaitu Syekh Aq Syamsuddin masuk ke istana. Saat itu, Muhammad al-Fatih sedang bermusyawarah dengan para pembesarnya. Melihat kedatangan gurunya, al-Fatih bangun dan menyambut gurunya dengan penuh hormat. Kemudian, beliau berkata kepada perdana menteri Utsmaniyah, Mahmud Pasya, “Perasaan hormatku kepada Syekh Aq Syamsuddin sangat mendalam. Apabila orang-orang lain berada di sisiku, tangan mereka akan bergetar. Sebaliknya, apabila aku melihatnya Syekh Aq Syamsuddin, tanganku yang bergetar."

keberkahan ilmu dari guru